Showing posts with label Tausiah Singkat. Show all posts
Showing posts with label Tausiah Singkat. Show all posts

Friday, November 17, 2017

// // Tulis Komentar

Islam Adalah Agama Semua Nabi, Ini Dalilnya:



Pertanyaan:
Apakah agama para nabi itu sama? Saya pernah dengar dari seorang penganut paham liberal, bahwa Ibrahim itu bapak 3 agama. Apa benar?

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Ada 2 hal yang perlu kita bedakan;

Agama dan Rincian ajaran agama
Agama para nabi itu sama, yaitu islam. Sehingga pokok dan prinsip ajaran para nabi itu sama. Semua mengajarkan tauhid, iman kepada hari akhir, loyal kepada sesama mukmin, dan memusuhi orang kafir.

Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25).

Allah berfirman, tentang Nabi Nuh – ‘alaihis salam –,

وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan aku diperintahkan untuk menjadi muslim.” (QS. Yunus: 72)

Allah berfirman tentang Ibrahim,

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. (QS. Al-Baqarah: 131).

Allah berfirman tentang Ya’qub, ketika beliau berwasiat kepada putra-putranya,

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah: 132).

Allah berfirman tentang Musa – alaihis salam –,

يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ
“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang muslim.” (QS. Yunus: 84)

Allah juga berfirman tentang Isa – ‘alaihis salam –,

آمَنَّا بِاللهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.” (QS. Ali Imran: 52).

Sementara rincian agama, berbeda-beda antara satu nabi dengan nabi yang lain.

Dulu, dalam syariatnya Nabi Musa ‘alaihis salam, lemak sapi dan kambing diharamkan. Dalam syariatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dihalalkan.

Allah berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِبَغْيِهِمْ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ
Kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. (QS. al-An’am: 146)

Dalam syariatnya Nabi Yusuf ‘alaihis salam, sujud kepada orang soleh dibolehkan. Sebagaimana saudara-saudaranya Yusuf sujud kepada Yusuf. Dalam Syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sujud kepada manusia dilarang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” (HR. Turmudzi 1159, Ibnu Hibban 1291 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa agama para nabi itu sama,

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
Para nabi itu ibarat saudara seibu. Ibu mereka berbeda-beda, agama mereka adalah satu.” (HR. Bukhari  3443 dan Muslim 2365).

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadis ini,

معنى الحديث أن أصل دينهم واحد وهو التوحيد وإن اختلفت فروع الشرائع
“Makna hadis, bahwa prinsip agama para nabi itu sama, yaitu tauhid. Meskipun rincian syariatnya berbeda-beda.” (Fathul Bari, 6/489).

Klaim Liberal Tentang Agama Para Nabi
klaim orang liberal, bahwa Ibrahim adalah bapak dari 3 agama: Islam, Yahudi, dan Kristen. Jelas ini klaim yang tidak sesuai fakta. Telah Allah bantah dalam al-Quran,

[1] Yahudi mengklaim, Ibrahim itu beragama yahudi. Nasrani mengklaim, Ibrahim itu nasrani. Mereka berdebat untuk mendapatkan pengakuan status agama Ibrahim. Lalu dibantah oleh Allah,

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? (QS. Ali Imran: 65).

Bagaimana mungkin Ibrahim beragama yahudi atau nasrani, padahal agama yahudi atau nasrani baru ada, setelah mereka melakukan penyimpangan terhadap taurat dan injil. Sementara taurat dan injil baru diturunkan jauh setelah Ibrahim.

[2] Bantahan Allah, bahwa Ibrahim bukan yahudi atau nasrani. Tapi beliau seorang muslim.

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 140).

Tapi sayangnya, orang liberal tidak mau mendengar dalil Al-Quran...

Sumber
Selengkapnya

Monday, May 29, 2017

// // Tulis Komentar

Keajaiban


Sekarang banyak ustadz yang mempopulerkan beberapa amal shaleh sesuai syari'at dengan tagline "Keajaiban Sedekah",   "Keajaiban Tahajud", "Keajaiban Sholat Berjama'ah", "Keajaiban Menghafal Qur'an" dan sebagainya.

Dan memang terbukti, orang yang rajin sedekah, hartanya justru makin bertambah.  Orang yang malam banyak begadang untuk tahajud (bukan karena mau nonton bola), justru badannya makin sehat.  Orang yang banyak sholat berjama'ah, justru waktunya berkah, berbagai acara justru secara ajaib bisa sinergi dan terselesaikan dalam waktu yang jauh lebih efisien dari sebelumnya.  Dan orang yang berusaha banyak menghafal Qur'an, justru otaknya lebih produktif, lebih mudah mencerna atau lebih cepat menghafal ilmu-ilmu yang lain.  Dan sepertinya ini hukum alam, karena selalu terjadi.

Namun bagaimanapun juga, amal-amal shaleh di atas tergolong kategori sunnah.  Padahal, jenis amal shaleh sesuai syariat itu, bahkan yang hukumnya wajib, masih sangat banyak.  Maka, kita rindu ada ustadz yang mempopulerkan amal shaleh yang sepertinya belum cukup populer, semisal:

"Keajaiban Menepati Janji",
"Keajaiban Berlaku Adil",
"Keajaiban Menuntut Ilmu",
"Keajaiban Menutup Aurat",
"Keajaiban Menjauhi Rizki yang Haram"
"Keajaiban Membela yang Terdzalimi",
"Keajaiban Memperjuangkan Syari'ah" ...
dan sebagainya.

Bagaimana kalau seorang muslim itu terbiasa menepati janji?  Apalagi para pejabat atau politisi, di mana saat pemilihan mereka biasa mengumbar janji.  Apakah mereka nanti lebih suka dijuluki PHP alias Pengumbar Harapan Palsu?  Dan silakan dibuktikan, bahwa Allah tidak akan mensia-siakan amal shaleh sedikitpun: setiap orang yang terbiasa menepati janji pasti Allah juga akan menepati janji-Nya kepadanya.  Doanya akan selalu terkabul, hajatnya akan selalu dipenuhi, istri dan anak-anaknya akan senantiasa menjadi cahaya mata baginya, dan rumahnya walaupun sederhana akan berasa surga.  Keajaiban akan mendekati dari segala penjuru !

Demikian juga dengan menjauhi rizki yang haram, entah yang bersumber dari riba, dari profesi yang tidak halal, atau yang didapat dengan korupsi.  Maka Allah akan mengganti rizki haram yang dijauhinya, dengan rizki yang lebih baik, yang halal, berkah dan berlimpah.  Allah cinta pada hamba yang tidak silau dengan gebyar harta bermilyar-milyar, kalau itu adalah sesuatu yang tidak diridhoi-Nya.  Hamba Allah itu sadar bahwa rizki itu semua adalah sekedar ujian, sehingga dia akan memilih yang halal saja, karena dia yakin, yang halal itu akan selamat untuk dirinya, keluarganya, tidak cuma di dunia tetapi sampai ke surga.  Baginya, cinta atau ridha Allah adalah di atas segala-galanya.

Apalagi memperjuangkan syari'ah.  Ini adalah puncak aktivitas yang mengundang keajaiban.  Memperjuangkan syari'ah adalah aktivitas dakwah yang diwariskan para Nabi.  Para wali yang datang ke Nusantara pun, hidupnya dipenuhi oleh keajaiban.  Maunah pada mereka mampu mengatasi sihir-sihir dari orang sakti negeri ini yang pernah menghalangi mereka. Allah mendatangkan keajaiban itu sejak mereka mencari bekal.  Semesta mendo'akan orang yang pergi mencari ilmu untuk bekal berdakwah.  Ikan-ikan di laut, burung-burung yang terbang di udara, dan para malaikat senantiasi mendoakan para pengemban dakwah.  Rizkinya secara ajaib bergulir bersama dakwah.  Gangguan orang-orang yang dengki, secara ajaib teratasi selaras dengan semakin teguhnya seorang pengemban dakwah pada keyakinan bahwa, "Allah yang memerintahkan dakwah ini, pasti tidak akan meninggalkan kita dalam kesulitan".  Itu juga rahasia kemenangan pasukan jihad kaum muslimin  di mana-mana.  Mereka menang bukan karena kesaktiannya, jumlahnya yang besar, atau persenjataannya yang lengkap.  Mereka dimenangkan Allah karena ketaqwaannya, sehingga Allah menggerakkan alam semesta menolong pasukan kaum muslimin, menanamkan ketakutan di hati musuh-musuhnya, membuyarkan kekompakan mereka, hingga akal sehatnya mengakui bahwa kaum muslimin tidak berperang untuk hawa nafsu mereka, melainkan justru untuk membebaskan musuhnya dari kegelapan kepada cahaya.

Demikianlah.  Mari kita cari berbagai keajaiban dalam segala pengamalan syari'at.  Semoga dengan demikian, cita-cita Islam Rahmatan Lil'alamin lebih cepat terwujud dalam rentang usia kita.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. 7:96)

Oleh: Fahmi Amhar
Selengkapnya

Saturday, May 27, 2017

// // Tulis Komentar

10 Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah



Salah satu shalat yang berat dilaksanakan bagi sebagian besar kaum Muslim, khususnya laki-laki dewasa ini, adalah shalat Subuh secara berjamaah. Padahal, bila melihat kepada keutamaannya, justru shalat Subuh berjamaah memiliki banyak keutamaan yang luar biasa, berikut ini sebagian keutamaan yang terdapat di dalamnya:

1. Mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala.

Shalat Subuh berjamaah berpeluang mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala. Sebab, aktivitas yang dilaksanakan pada waktu pagi, terlebih aktivitas wajib dan dilaksanakan berjamaah seperti shalat Subuh, telah didoakan agar mendapatkan berkah. Yang mendoakannya adalah Rasulullah shallallahualaihiwasallam:

اللهمَّ باركْ لأمتي في بكورِها

Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah)

2. Mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.

Kondisi pada waktu subuh umumnya masih gelap, walau dengan penerangan listrik yang ada. Namun, dengan kondisi seperti itulah justru terdapat ganjaran yang besar dari Allah Ta’ala bagi manusia-manusia yang menuju masjid buat melaksanakan shalat dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat kelak, dalam hadits disebutkan:

عن بريدة الأسلمي رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم قال :بشِّرِ المشَّائين في الظُّلَم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة

Dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

3. Mendapatkan ganjaran shalat malam sepenuh waktunya.

Bisakah kita melakukan shalat malam atau tahajud sepenuh malam? Tentu sangat sulit dengan beragam aktivitas siang hari yang juga harus kita kerjakan. Namun demikian, pahala melakukan shalat malam sepenuh waktu malam ternyata bisa kita dapatkan dengan melakukan shalat Subuh secara berjamaah, dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebutkan:

مَن صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلَّى الليلَ كلَّه

“Barang siapa yang melakukan shalat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barang siapa yang melakukan shalat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.”(HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu)

4.. Berada dalam jaminan AllahTa’ala.

Artinya, orang yang melaksanakan shalat Subuh dengan sempurna, antara lain dengan melaksanakannya berjamaah, maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Azzawajalla., dengan begitu, siapa yang berada dalam perlindungan Allah, orang itu tidak boleh disakiti, orang yang berani mencelakakannya terancam dengan azab yang pedih, sebab dia telah melanggar perlindungan yang Allah berikan kepada orang tadi, dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَن صلَّى الصبح، فهو في ذمة الله، فلا يَطلُبَنَّكم الله من ذمَّته بشيء؛ فإن من يطلُبهُ من ذمته بشيء يدركه، ثم يَكُبه على وجهه في نار جهنم

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian sesuatu apa pun pada jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Dia tuntut pada jaminan-Nya, pasti Dia akan mendapatkannya. Kemudian dia akan ditelungkupkan pada wajahnya di dalam Neraka.” (HR. Muslim, dari Jundubibn Abdillah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu)

5. Dibebaskan dari sifat orang munafik.

Siapakah dari kita yang bisa menjamin bahwa dirinya telah suci dari penyakit kemunafikan? Bukankah dahulu para tokoh Salaf, yang notabene keimanannya lebih baik daripada kita, senantiasa takut dan khawatir terjangkiti sifat kemunafikan? Lantas, tidakkah kita seharusnya lebih layak untuk khawatir terhadap kondisi kita dewasa ini? Apalagi hidup dalam dunia dengan godaan yang demikian banyak menerpa.

Shalat Subuh secara berjamaah adalah salah satu upaya yang bisa kita tempuh agar bisa terhindar dari terjangkit penyakit kemunafikan itu, disebutkan dalam hadits:

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما، لأتَوهما ولو حبوًا، ولقد هممتُ أن آمُرَ المؤذِّن فيُقيم، ثم آخُذَ شُعلاً من النار، فأحرِّقَ على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

“Tidak ada Shalat yang lebih berat (dilaksanakan) bagi orang munafik daripada shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu (keutamaan) yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan melakukannya kendati dengan merangkak. Sungguh aku telah hendak memerintahkan kepada petugas azan untuk iqamat (Shalat) kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang belum tidak keluar melaksanakan Shalat (di masjid).” (HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah)

6. Jamaah shalat Subuh dipersaksikan oleh malaikat.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يتعاقبون فيكم ملائكةٌ بالليل وملائكةٌ بالنهار، ويجتمعون ف ي صلاة الفجر وصلاة العصر، ثم يعرُجُ الذين باتوا فيكم، فيسألهم ربُّهم – وهو أعلم بهم: كيف تركتم عبادي؟ فيقولون: تركناهم وهم يصلُّون، وأتيناهم وهم يصلون.

“­Malaikat bergantian melihat kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat.” (HR. Bukhari-Muslim)

7. Berpeluang mendapatkan pahala haji atau umrah bila berzikir hingga terbitnya matahari.

Bisa dibayangkan betapa besar ganjaran pahala yang didapatkan bila memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Dasar dari hal ini adalah keterangan dari Anasibn Malik Radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bersabda:

مَن صلى الغداة في جماعة، ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثم صلى ركعتين، كانت له كأجر حجة وعمرة تامة، تامة، تامة

“Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lantas shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi)

8. Kesempatan untuk melaksanakan shalat sunah Subuh.

Kesempatan lain yang bisa didapatkan dengan mengupayakan shalat Subuh secara berjamaah adalah shalat sunah Subuh dua rakaat. Shalat sunat Subuh dua rakaat ini punya kelebihan tersendiri yang disebutkan dalam hadits.

ركعتا الفجر خيرٌ من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat (shalat sunah) Subuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim dari Ummul MukmininAisyah Radhiallahu ‘anha)

9. Keselamatan dari siksa Neraka.

Keselamatan dari siksa Neraka berarti berita gembira tentang masuk Surga. Ganjaran ini tentunya berlaku bagi yang melaksanakan shalat Subuh secara sempurna (berjamaah). Mari perhatikan Hadits berikut:

عن عُمارة بن رويبة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (لن يلج النارَ أحدٌ صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها) رواه مسلم

Dari Umarah Radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan terbenamnya matahari (Ashar).”(HR. Muslim)

10. Kemenangan dengan melihat Allah Ta’ala pada hari Kiamat nanti.

Tentunya hal ini merupakan ganjaran terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya.

عن جرير بن عبد الله البجلي رضي الله عنه قال: كنا جلوسًا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ نظر إلى القمر ليلة البدر، فقال: (أمَا إنكم سترَون ربَّكم كما ترَون هذا القمر، لا تُضَامُّون في رؤيته، فإن استطعتم ألا تُغلبوا على صلاةٍ قبل طلوع الشمس وقبل غروبها، فافعلوا) رواه البخاري ومسلم

Dari Jarir Bin Abdullah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau melihat ke bulan di malam purnama itu, Rasulullah bersabda, ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian akan melihat kepada Rabb kalian sebagaimana kalian melihat kepada bulan ini. Kalian tidak terhalangi melihatnya. Bila kalian mampu untuk tidak meninggalkan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah!” (HR. Bukhari-Muslim)

Semoga motivasi ini memicu kita untuk senantiasa bisa menjaga shalat Subuh secara berjamaah, bahkan menularkannya kepada saudara-saudara kita lainnya.
Selengkapnya

Sunday, January 29, 2017

// // Tulis Komentar

Apa Pedomanmu Dalam Beribadah Kepada Allâh Ta’ala?


Seorang hamba wajib menghambakan dirinya kepada Allâh Ta’ala.  Dalam proses menghambakan dan mendekatkan dirinya, atau lebih lazim dikenal dengan beribadah, kepada Rabbnya itu, ia tidak boleh berbuat dan melakukan sesukanya berdasarkan kata hati, perasaan, akal atau menurut kebanyakan orang.

Ada enam pedoman dalam beribadah yang wajib diikuti oleh seorang Muslim dalam mengamalkan seluruh ibadahnya. Pedoman-pedoman tersebut adalah:

Pertama : 
Ibadah itu bersifat  تَوْفِيْقِيَّة  (tauqifiyyah, tidak ada ruang bagi akal di dalamnya).

Para hamba wajib untuk hanya patuh terhadap ketentuan pemegang hak syariat saja, Allâh Azza wa Jalla. 
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka, tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang telah bertaubat bersamamu dan janganlah melampaui batas”
[Hûd/11:112]

Bahkan Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun wajib tunduk patuh  terhadap aturan yang Allâh gariskan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui 
[Al-Jâtsiyah/45:18]

Kedua : 
Ibadah harus dikerjakan dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla, bersih dari noda-noda kesyirikan. 

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Rabbnya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya” 
[Al-Kahfi/18:110].

Apabila ibadah terkontaminasi oleh unsur syirik dan tercampur dengannya, maka akan membatalkan dan membuyarkannya. 
Allâh Azza wa Jalla berfirman setelah menyebutkan 18 rasul :

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Seandainya mereka mempersekutukan  Allâh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan 
[Al-An’âm/6:88]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orng yang merugi. 
Karena itu, maka hendaklah Allâh saja kamu ibadahi dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.
[Az-Zumar/39:65-66]

Ketiga : 
Hendaknya teladan dalam ibadah dan insan yang menjelaskannya adalah Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allâh [Al-Ahzâb/33:21]

Tentang ayat di atas, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan kaedah besar tentang (keharusan) mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala ucapan, perbuatan dan keadaannya”.

Perkara-perkara yang Allâh Azza wa Jalla cintai untuk dijadikan ritual ibadah oleh umat manusia kepada Rabbnya hanya diketahui oleh Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertindak sebagai utusan Allâh Azza wa Jalla yang menjadi perantara antara Allâh Azza wa Jalla dan hamba-hamba-Nya.

Ayat di atas 
( Al-Ahzâb/33:21) sebenarnya sering kali disampaikan dalam acara-acara peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
Dalam acara peringatan yang tidak dibenarkan syariat Islam tersebut, memang penceramah juga menekankan untuk meneladani budi pekerti Rasulullah yang luhur semata. 
Sementara terkait urusan ibadah, jarang sekali atau tidak pernah disinggung bahwa kita pun wajib meneladani Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan ibadah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menekankan agar mengikuti tata cara ibadah yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. 
Dalam tata cara shalat misalnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي

Kerjakanlah shalat oleh kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat [Muttafaqun ‘alaih]

Tentang haji, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

Ambillah dariku manasik haji kalian [Muttafaqun ‘alaih]

Di sisi lain, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahaya orang yang beribadah tanpa mengikuti petunjuk yang dibawa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan petunjuk kami, maka akan tertolak 
[HR. Muslim]

Dalam riwayat lain :

مَنْ أَحْدَثَفِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengadakan perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan darinya, maka akan tertolak [Muttafaqun ‘alaih]

Oleh sebab itu, orang-orang yang suka mengadakan perkara baru dalam urusan agama yang tidak pernah diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam perlu menjawab pertanyaan berikut, “Apakah mereka lebih tahu tentang syariat dari pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?!”. “Dan apakah mereka lebih paham tentang ajaran Islam dari pada para Shahabat yang mengambil ajaran agama langsung dari utusan Allâh, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam?!”

Empat : 
Ibadah itu diatur dengan waktu-waktu dan ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar dan diabaikan.

Semisal ibadah shalat, Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. [An-Nisâ`/4:103].

Dalam haji, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ 

Musim haji itu adalah beberapa bulan yang dimaklumi. 
[Al-Baqarah/2:197]

Sedangkan tentang puasa, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ 

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa  di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu. [Al-Baqarah/2:185]

Kelima : 
Ibadah harus dibangun di atas mahabbah kepada Allâh Azza wa Jalla, dzull (kehinaan), al-khauf (rasa takut) ar-rajâ (pengharapan) kepada-Nya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kamu benar-benar mencintai Allâh, maka ikutilah aku, niscaya Allâh akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. 
Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang 
[Ali ‘Imrân/3:31]

Di sini, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan tanda cinta kepada Allâh Azza wa Jalla dan dampak positifnya.
Tandanya adalah mengikuti Rasûlullâh Muhammad. Adapun, buahnya ialah memperoleh cinta dari Allâh Azza wa Jalla, ampunan atas dosa-dosa dan rahmat dari-Nya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allâh) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabbmu adalah suatu yang (harus) di takuti.[Al-Isrâ`/17:57]

Keenam : 
Ibadah tidak akan pernah gugur dari seorang mukallaf sejak ia baligh hingga ajal datang menghentikan  kehidupan dunianya. 

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan  beribadahlah kepada Allâh sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) 
[Al-Hijr/15:99].

Sâlim bin ‘Abdillâh bin ‘Umar, Mujâhid, Qatâdah dan Ulama tafsir lainnya menyatakan bahwa maksud al-yaqîn dalam ayat adalah kematian.

Karena itu, Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya (II/579) mengatakan, “Dari ayat ini disimpulkan bahwa ibadah seperti shalat dan ibadah lainnya, wajib dilakukan selamanya selama akal masih ada. Ia melakukannya sesuai dengan kondisi yang ia mampu”.

Kemudian beliau juga menilai sebagai bentuk kekufuran, kesesatan dan kebodohan kepada orang yang berpandangan seseorang akan bebas dari beban taklif (tidak dikenai kewajiban ibadah) bila telah sampai pada derajat ma’rifah. 
Beliau mengungkapkan fakta bahwa paran Nabi dan shahabat-shabahat mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allâh dan mengetahui hak-hak dan sifat-sifat-Nya. 
Dan mereka adalah orang yang paling banyak beribadah dan istiqomah untuk melakukan amal kebaikan sampai wafat.

Wallâhua’lam.
Selengkapnya
// // Tulis Komentar

Belajar Kepada Umar bin Khattab


Siapa yang tidak kenal Umar, sahabat nabi yang terkenal sangat pemberani. Tak satupun orang Quraisy yang berani menghadang Umar tatkala dirinya menyampaikan kepada seluruh warga Makkah bahwa esok hari ia akan hijrah ke Madinah dan bergabung bersama barisan kaum Muslimin.

Keberanian Umar sungguh sangat luar biasa. Namun demikian Umar juga punya rasa takut sangat luar biasa. Hal itu terlihat tatkala ia melakukan sidak di malam hari. Ketika ia menjumpai sebuah rumah yang di dalamnya terdengar suara tangisan anak-anak, Umar pun segera masuk dan bertanya perihal apa yang menyebabkan si anak itu menangis.
Setelah mengerti bahwa ternyata seharian anak-anak itu tidak makan. Umar bergegas menuju baitul maal dan langsung memikul sekarung gandum itu di tengah malam gelap gulita. Ketika pengawalnya menawarkan diri untuk memikulkannya, dengan singkat Umar menjawab, “Apa kamu sanggup memikul dosa-dosa Umar di hari kiamat?”

Langkah Umar ini patut kita teladani. Bagaimana kita berupaya menjalankan segala hal yang merupakan kewajiban kita. Sebagai seorang khalifah, bukan Umar tidak punya menteri, pasukan, atau kendaraan untuk mengangkat gandum itu. Juga bukan berarti salah jika Umar meradang, lalu mengumpulkan seluruh menteri dan stafnya untuk diberi briefing mengenai tugas-tugas seperti itu.

Tapi Umar sadar betul bahwa dirinya menjadi khalifah adalah amanah dari Allah. Umar sangat takut kalau Allah murka kepadanya karena dia tak mau berbuat dan hanya suka marah kepada bawahan tanpa memberikan solusi konkrit atas kepemimpinannya. Keputusannya untuk bergerilya di malam hari untuk mengetahui situasi dan kondisi riil masyarakatnya juga merupakan satu bentuk tanggung jawab yang sangat luar biasa.

Bahkan karena rasa takutnya yang luar biasa kepada Allah SWT, Umar sempat menyatakan bahwa, “Apabila ada anak kambing terperosok karena jalanan yang rusak, Umarlah yang bertanggung jawab di dunia dan akhirat.”
Islam itu Identik Berbuat

Siapa yang mengaku beriman maka hendaklah ia menjadikan dirinya sebagai pribadi yang banyak berbuat bukan banyak bicara. Artinya, tidak banyak bicara untuk hal-hal yang tidak perlu apalagi berpotensi negatif (baca dosa). Jika kita membaca isi kandungan al-Quran dan Hadits, isinya adalah perintan beramal dan mengerjakan hal-hal yang baik. Bukan berisi perdebatan sia-sia atau hanya sekedar wacana.
Sebagai konsekwensi kemusliman kita, jika ditemukan hal-hal yang tidak baik dan kita mampu untuk menutupinya, maka tutupilah bukan terpancing untuk marah atau membeberkan kesalahan orang.

Seorang suami ketika melihat rumah belum bersih, tidak perlu memanggil istri atau anak untuk menyapunya apalagi ‘berceramah’ lebih dulu. Tetapi ambillah sapu dan bersihkanlah. Karena kebersihan rumah adalah tanggungjawab semua, terutama kepala keluarga.

Demikian pula seorang pemuda, tatkala melihat hal-hal yang tidak baik, jangan hanya bicara, selesaikan segera dengan cara-cara yang santun. Sebagaimana telah dicontohkan oleh nabi. Jangan sampai terjadi, selalu mengkritik orang tua, tapi pada saat yang sama tak ada karya yang diperbuat. Bicara seolah-olah seorang pemikir, ahli kebijakan, tapi perangai dan perilakunya tak mencerminkan pemuda yang beriman yang berkahlak. Pepatah mengatakan tong kosong nyaring bunyinya.
Artinya jika sebagai pemuda kita hanya bisa bicara, tunggu saja, saatnya nanti kita akan ditinggalkan.

Prinsipnya, sebagai apapun dan dalam situasi apapun kita, hendaknya selalu berusaha untuk mengutamakan berbuat yang terbaik. Hindari banyak bicara yang tidak perlu. Sebab kelak sebagus apapun perkataan tak akan mampu mengalahkan bagusnya perbuatan.
Allah SWT berfirman:

ﻭَﻗُﻞِ ﺍﻋْﻤَﻠُﻮﺍْ ﻓَﺴَﻴَﺮَﻯ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻤَﻠَﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻭَﺳَﺘُﺮَﺩُّﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺎﻟِﻢِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺓِ ﻓَﻴُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 9: 105).
Masalahnya, yang kita saksikan saat ini, kita semua lebih suka banyak bicara dari pada bekerja. Wallahu a’lam.
Selengkapnya

Monday, December 19, 2016

// // Tulis Komentar

Aqidah Al Wala' Wal Bara'



Al-Wala’ mempunyai beberapa arti, antara lain; mencintai, menolong, mengikuti dan mendekat kepada sesuatu. Dari kata al-wali (الْوَلِى) digunakan untuk makna memantau, mengikuti, dan berpaling. Jadi, ia merupakan kata yang mengandung dua arti yang saling berlawanan. Arti kata Al wa' la bisa juga penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhai Allah berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan, dan orang yang melakukannya. Mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah.
Al-Bara’ mempunyai banyak arti, antara lain menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri dan memusuhi. Kata bari-a (بَرِيءَ) berarti membebaskan diri dengan melaksanakan kewajibannya terhadap orang lain.
Aqidah Al-wala’ Wal-bara’ dapat didefinisikan sebagai penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhai Allah serta apa yang dibenci dan dimurkai Allah, dalam hal perkataan, perbuatan, kepercayaan, dan kepada sesama manusia.
Al-Wala’ wal bara’ merupakan bagian dari ikatan iman yang paling kuat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ.
“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas yang kuat karena Allah dan permusuhan karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda bahwasannya "tali iman yang paling pokok adalah disaat saling mencintai karena Allah dan membencipun karena Allah."
…وَ أَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ…
“… Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah…”
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ:.. وَرَجُلاَنِ تَحَاباَّ فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقاَ عَلَيْهِ…
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya,… dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul maupun berpisah juga karena-Nya…”
Selengkapnya

Friday, December 16, 2016

// // Tulis Komentar

TUJUH MACAM PERSAHABATAN, Tapi Hanya 1 Tersisa Sampai Di Akhirat



1. *"Ta’aruffan”*, adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.
2. *"Taariiihan”*, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.
3. *"Ahammiyyatan”*, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.
4. *"Faarihan”*, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, tenis, berburu, memancing, dan sebagainya.
5. *"Amalan”*, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.
6. *"Aduwwan”*, adalah seolah sahabat tetapi musuh, di depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120).
Rasulullah mengajarkan doa, “Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”
7. *"Hubban Iimaanan”*, adalah sebuah ikatan persahabatan yang lahir batin, tulus saling cinta & sayang krn ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam2 dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya.
Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.
Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat. yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10),
*"Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67)*
Di riwayatkan, bahwa: Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala ...
"Yaa Rabb...Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia, Shalat bersama kami, Puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,"
Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah."
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu'min-mu, karena Mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat."
"Karuniakanlah kepadaku Sahabat-Sahabat yang selalu mengajakku untuk Tunduk, patuh & Taat kepada Syariat-Mu...Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu... Jangan tumbuhkan di hati kami untuk mencintai musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh Rasul-Mu. Aamiin..
Terima kasih sahabat.... Semoga Allah mengumpulkan kita diakhirat didalam Jannah Firdaus-Nya...
Aamiiin Yaa Robbal Aalamiin..
Selengkapnya

Thursday, December 15, 2016

// // Tulis Komentar

3 Golongan yang Pertama Masuk Neraka



Bismillaahhirrohmaanirrohiim..
Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokaatuuh..

Alhamdulillahirobbil ‘alamin, washolatu wasalmu’ala ashrofil ambya’i walmursalin, wa ‘ala alihi wasahbihi ajma'in. Ama ba’du…

Bapak Ibu jama’ah yang dimuliakan Alloh SWT, marilah kita panjatkan puji syukur atas segala nikmat yang diberikan Alloh SWT kepada kita, utamanya adalah nikmat islam, kesehatan, kekuatan dan kesempatan, sehingga pada malam hari ini kita masih diperkenankan berkumpul untuk mengkaji ayat-ayat Alloh SWT.

Tak lupa salam dan shalawat semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa istiqomah melaksanakan ajarannya.

Pada kesempatan kali ini saya akan membacakan sebuah kultum dengan tema:

3 Golongan yang Pertama Masuk Neraka

Siapakah golongan manusia yang pertama masuk neraka? Apakah orang kafir? Apakah orang munafik? Apakah orang yang berbuat zina? Bapak Ibu yang dimuliakan Alloh SWT, ternyata bukan salah satu dari mereka. Ada 3 golongan yang pertama masuk neraka.

Imam Muslim berkata: Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Habib Al-Haritsi, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Al-Haritsi, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Yunus bin Yusuf, dari Sulaiman bin Yasaar, Dia (Sulaiman bin Yasaar) berkata, Ketika orang-orang telah meninggalkan Abu Hurairah, maka berkatalah Naatil bin Qais al Hizamy Asy-Syamiy (seorang penduduk palestina dan beliau adalah seorang tabiin).

"Wahai Syaikh, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang engkau telah dengar dari Rasulullah ShollAlloh SWTu'alaihi wassalam, Ya (Aku akan ceritakan - Jawab Abu Hurairah).  Aku telah mendengar Rasulullah ShollAlloh SWTu'alaihi wassalam bersabda: "Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Alloh SWT. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya.

Alloh SWT bertanya kepadanya: 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab: 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Alloh SWT berkata: 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Alloh SWT menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.'

Alloh SWT berkata: 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari' (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya).

Alloh SWT bertanya: 'Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab: 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Alloh SWT berkata: 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.'’

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, dan derajadnya Shohih.

Hadits di atas menjelaskan tentang ditolaknya suatu amal karena dilandasi dengan riya’. Syarat pokok diterima suatu amal shalih adalah ikhlas karena Alloh SWT semata, dan amal tersebut harus sesuai dengan contoh dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Inilah dua landasan amal yang diterima, ikhlas karena Alloh SWT dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam”.

Hadits di atas menjelaskan tentang adanya  tiga golongan manusia yang dimasukkan ke dalam neraka dan tidak mendapat penolong selain Alloh SWT. Mereka membawa amal yang besar, tetapi mereka melakukannya karena riya', ingin mendapatkan pujian dan sanjungan. Pelaku riya', kelak dihari pengadilan, wajahnya diseret secara tertelungkup sampai masuk ke dalam neraka.

Untuk itu, bapak ibu, marilah kita senantiasa berusaha untuk meluruskan niat dalam setiap amal ibadah. Jangan pernah kita beramal karena riya’ atau mengharapkan pujian dan sanjungan.

Demikianlah tausiah singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga ada manfaatnya. Dan semoga amal ibadah yang kita kerjakan tidak ada yang sia-sia. Aamiin..

Billahitaufik walhidayah.. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wa barokaatuuh..

Selengkapnya